Sunday, May 3, 2015

Soal Mendung

Mendung adalah awan yang cemas
melihatmu memendam segala
yang tidak mampu ditampung kata-kata

Yang menurunkan hujan --dengan segala definisinya--
melewati lorong waktu mengetuk jendela itu
dia yang termangu
(mungkin sedang)
menunggu jauh

Friday, April 3, 2015

Jangan Terlalu Berharap (Pada Media)

“Kambing. Media-media sekarang tuh kaya t*i tau gak sih lo,” maki Emir kesal.

“Jadi kaya kambing apa kaya t*i nih,” sahut Amri menanggapi.

“Kaya t*i kambing juga boleh. Terserah lu,” timpal Emir lagi.

===

Kekesalan yang dialami Emir jamak kita lihat ketika Pemilihan Presiden lalu. Keberpihakan media kepada salah dua kandidat begitu kentara. Media A menampilkan sosok presiden yang satu sebagai figur lugu, jujur, dan menjanjikan. Sementara yang satu menampilkan presiden B sebagai sosok bengis, bagian dari orde otoriter dan sebagainya.

Masyarakat dibuat bingung akan hal itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan informasi yang benar sesungguhnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menengok salah satu pandangan yang terkenal dalam dunia teks, Paradigma Kritis.

Mengutip Eriyanto dalam buku Analisis Wacana, paradigma kritis bersumber dari pemikiran sekolah Frankfurt. Dalam paradigma ini, media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.

Paradigma kritis ini kemudian dikembangkan oleh seorang ahli bernama Stuart Hall. Lebih jauh, Hall merumuskan Paradigma Kritis secara lebih tajam. Menurutnya, media adalah pemeran utama dari pertarungan kekuasaan. Media memilih nilai-nilai dan apa yang seharusnya masyarakat terima atau inginkan.

Dalam praktek di lapangan, wartawan sebagai bagian dari lingkup yang lebih besar yakni media, yang diterjunkan untuk meliput suatu peristiwa, akan membangun kembali peristiwa itu dengan angle pemberitaan tertentu. Wartawan membangun suatu peristiwa utuh menjadi sebuah realitas.

Realitas dapat ditandakan secara berbeda pada perstiwa yang sama. Makna yang berbeda dapat dilekatkan pada peristiwa yang sama.

Kesimpulannya, ketika masyarakat melihat suatu berita, itu adalah hasil rekonstruksi yang dibangun oleh sang wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Apakah tindakan wartawan melakukan rekonstruksi atas suatu peristiwa yang terjadi itu salah? Tidak juga. Sebab wartawan juga punya nilai yang dia pegang.

Ambil contoh begini, wartawan yang bersikap apolitis, akan menulis berita soal janji-janji para politisi dengan nada sinis dikarenakan oleh nilai politik t*i kucing yang dia pegang. Lain cerita jika si wartawan menganggap politisi ini punya sesuatu yang menjanjikan atau dia berpihak pada seorang politisi, kemungkinan besar –kalau tak mau ditulis pasti- berita soal politisi itu akan bernada positif atau istilahnya lebih kalemlah.

Lalu pertanyaan lainnya, masih adakah berita atau katakan media yang netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama adalah buang jauh-jauh kata netral karena yang ada adalah jujur dan adil.

Robert Scheer dari Los Angeles Times mengatakan, yang lebih penting bukan Apakah Anda bisa netral, tetapi bagaimana Anda (dalam hal ini wartawan) mengerjakan pekerjaan Anda dengan cara yang adil dan jujur.

Koran Washington Post bisa dijadikan acuan terkait sikap adil yaitu:
  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta-fakta yang penting. Jadi adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi adil adalah relevansi.
  • Berita itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak, menggiring pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila wartawan menyembunyikan prasangka atau emosinya di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi adil menuntut keterusterangan.


Lantas kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana cara masyarakat menentukan kebenaran suatu informasi? Bertrand Russell pernah berkata kepada mahasiswanya

“Lakukan pengamatan sendiri. Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi lebih sedikit dari pria, andai saja dia meminta istrinya membuka mulut dan menghitung sendiri. Menganggap kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan,”

Ya, masyarakat dengan nilai-nilai yang mereka dapat, sebetulnya mampu menentukan dan memilah-milah informasi yang benar dan salah. Sebagai contoh, seorang pecandu sepak bola pasti tahu informasi yang menyebut Zlatan Ibrahimovic bermain di Persija Jakarta adalah salah.

Terlepas dari paparan di atas, ini adalah opini penulis, sebaiknya kita jangan terlalu berharap lebih kepada media. Karena koran sekaliber Washington Post dan Los Angeles Times pun penulis yakin masih melakukan pilih kasih dalam berita (soal terorisme misalnya, pihak mana yang sering disudutkan? Mengapa label terorisme hanya melekat pada pihak tertentu itu?).

Jadi sekali lagi, jangan terlalu berharap, karena berharap, apalagi terlalu itu sakit. Utamanya kalau soal cinta #eeh.

Daftar Pustaka
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana, Pengantar Teks Media , Jakarta: LKIS
Ishwara,Luwi, 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas



Tuesday, March 24, 2015

Cerita Horor Kantor

Sebenernya ini udah sering dialami sama temen-temen yang lain, termasuk gue. Tetapi, ekskalasinya baru gue alami pas piket kemarin.

Senin dini hari, jam tiga pagi. Gue hanya berdua dengan temen gue yang kebagian kanal news. Kebetulan pas gue piket itu, lagi banyak pertandingan bola yang main. Alhasil, gue begadang deh (Biasanya gue bisa tidur di sela-sela jam piket).

Nah, pas gue lagi asik mantau match bola, tetiba ada suara bangku yang digoyang-goyang. Keras banget bunyinya. Bangku itu ada di kubikel lain yang gue pikir enggak jauh dari kubikel punya gue.

Gue yakin itu bukan temen gue karena temen gue lagi ambil wudhu di keran yang ada di balkon samping lantai empat, tempat gue kerja. Pas dia masuk, gue tanya lah dia.

"Lu denger gak bang? Ada suara bangku digoyang-goyang,"

Awalnya dia gak nyadar. Eh pas dia lagi ngobrol sama gue, itu bangku bunyi lagi. Gue sama dia langsung paham kalau itu kerjaannya penunggu kantor gue, khusunya penunggu lantai empat.

Sialnya, enggak lama setelah bunyi bangku itu, temen gue pulang. "Ada urusan," begitu kata dia. Alhasil, gue pun sendirian di lantai itu. Sebetulnya ada sih orang lagi, tapi dia anak copywriter yang jarak kubikelnya jauh banget dari kubikel gue. Jadi suara yang asalnya dari kubikel gue dia engga bisa denger jelas. Pun sebaliknya.

Selepas temen gue balik, gue ngerasa kaya terus diamatin. Gue lagi nonton tv, gue ngerasa ada sesuatu yang lagi jalan di belakang gue. Jelas gue parno, mata gue terus aja ngeliat ke bagian-bagian gelap yang ada di lantai itu. Tapi Alhamdulillah, itu mahluk enggak mutusin buat mejeng di depan gue.

By the way, kenapa gue bilang hal kaya gini lazim? Sebab kantor gue itu dulunya rumah zaman Belanda. Nah, kata temen gue yang punya kemampuan supranatural, itu mahluk nongkrongnya di toilet cewe. Sebab temen gue pernah diikutin dan dikasih liat.

"Dia (mahluk itu) cuma mau maen aja," kata temen gue, yang ngakunya pernah ngobrol sama itu mahluk.

Masih banyak cerita horor dari kantor gue ini. Yang ngalaminnya bukan gue melainkan temen-temen gue yang lain. Redaktur gue ngaku pernah liat Mr. P di salah satu bagian lantai empat.

Dari Dulu

tripadvisorcom
Dari dulu tuh gue pengin banget punya kamar dengan jendela. Di luar kamar, ada semacam taman kecil dengan pepohonan.

Nah di deket jendela itu gue taroh deh meja dengan deretan buku di atasnya plus laptop (kalau bisa macbook, aamiin :p) biar kalau gue buntu lagi nulis sesuatu, gue bisa lihat pemandangan di luar plus hirup udara segar dari sana.

Sekarang sih kamar gue udah ada jendelanya. Cuma enggak ada pemandangan hijau dan udara segar. Sebab jendela itu enggak langsung menghadap keluar melainkan masih berada di dalam rumah gue.

Situasi begitu tuh yang buat gue kadang merasa buntu cari inspirasi. Seriusan deh, udara segar plus pepohonan itu bisa nambah inspirasi loh. At least itu berlaku buat gue. 

Makanya, selain mengidamkan kamar yang seperti yang ada di foto, gue juga pengin ada taman di kota gue. Semacam Taman Suropati deh (its the best park in Jakarta IMHO) di mana lo bisa kumpul-kumpul hirup udara segar bareng temen lo. Gratis.


Terlepas dari kekurangan kamar gue sekarang, gue bersyukur sih punya kamar yang nyaman. Yang perlu ditambah ya jendela yang menghadap langsung keluar. Hehehe. Plus taman kota yang nyaman.

The Beginning (Again)

Gila, udah lama banget gue gak ngepost di sini. Hahaha. Postingan terakhir gue di blog ini itu pada Februari 2014. Itu artinya, udah satu tahun lebih sebulan, gue gak mejeng di blog gue yang satu ini.

Gak tahu mulai kapan, gue emang lebih sibuk mejeng di blog gue yang satunya lagi di ruangpenapay.tumblr.com. Penyebabnya, di tumblr itu interface plus desainnya lebih simpel. Ditambah, gue emang memfokuskan blog tumblr itu untuk muat tulisan-tulisan gue yang berkaitan dengan sepak bola. Kalau di blog yang ini, lebih ke seninya: puisi, cerpen, photosopan dll.

Nah, belakangan, gue agak gak eksis atau gak mood bikin puisi atau semacamnya. Kalau pun bikin, paling gue post di path. Karena di situ banyak yang lihat, ketimbang gue harus tag link blog ini ke path gue. Yaudah deh, makin jadi ini blog gue tinggal. Lagian gue ngerasa belum terlalu berbakat untuk soal puisi dan semacamnya. 

Dulu sih emang sering bikin karena sumbernya kegalauan gue. Wakakakak. Kalau sekarang sih karena udah jarang galau (sori, apaan tuh galau, gak pernah kenal :p) jadi jarang bikin puisi. Palingan gombalan-gombalan enteng yang kayaknya terlalu simpel kalau buat dimasukan ke blog.

Sekarang, gue coba deh untuk aktifin lagi blog gue yang ini. Sebisa gue deh, gue bakal isi sama puisi-puisi atau cerpen, or segala unek-unek gue kecuali soal sepak bola, karena kan kalau bola udah ada blog yang di tumblr.

Gue coba mulai dari desainnya ya. Gue pengin yang simpel aja. Kaya tumblr gue;Judul, artikel, udah. Enggak pakai embel-embel desain yang ribet. Soalnya kan nanti jadi lemot.

So... Lets start it!!



Wednesday, February 12, 2014

Kemantapan Visi

Well well well, sebetulnya agak malu juga mau nulis ini, soalnya kalo judul artikel ini dibanding sama kehidupan nyata gue, masih jauh lah. Gue masih dibilang, kalau kata orang Jawa, belum dadi wong, gue masih rookie jadi wartawan hehehe. Belum jadi man on suit and tie alias sukses dan mapan. Tetapi gak ada salahnya lah ya, kalo gue mengamalkan kalimat Cogito Ergosum punya Rene Descartes.

Bermula dari chat di facebook, Senin (10/2/2014) malam, ketika seorang teman menanyakan alasan gue masuk UI. Gue bilang, ketika gue SD, jaman 98, gue liat si Rico Marbun, ketua BEM UI ketika itu diwawancara Liputan 6 soal demonstrasi besar-besaran untuk menurunkan Soeharto dari kursi presiden. Ketika itu, gue ngebatin, keren lah ya kalau gue nanti bisa masuk UI. Temen gue, yang chat di facebook tadi bilang, keren lah ya lo udah punya hmm mimpi masuk UI pas itu, kalau gue masih ngawang pas itu. Ah biasa aja kok kata gue.

Bukan memuji diri sendiri. Sumfeeh. Tapi gue mikir, iya juga ya, visi gue untuk masuk UI sejak SD gue itu lah yang secara tidak sadar, mendrive diri gue hingga akhirnya bisa masuk UI pada 2008. Ketika pemilihan rektor UI tahun 2005, if i'm not mistaken, gue juga ngebatin, ini orang yang akan jadi rektor gue nanti. Deng, jadi dah kenyataan, si Gumilar Rusliwa Sumantri jadi rektor gue.

Kesimpulannya, kita emang harus punya visi yang bisa mendrive diri kita agar our dream comes true. Sama satu lagi, fokus. Nyokap gue selalu cerita, kalo gue ditanya, "Aa mau masuk mana kuliahnya? Gue selalu bilang, "UI UI UI," Jadi dah gue jadi bagian dari keluarga besar Yellow Jacket dan dengan bangga mengatakan, gue alumnus UI.

Meskipun sekarang, gue belum jadi apa-apa, tapi gue bersyukur, setidaknya sekali dalam hidup gue, gue pernah punya keinginan dan mimpi yang udah gue wujudkan.

Sekarang gue tinggal mewujudkan mimpi gue yang lain. Doain gue, hahaha. Anyway, apa visi dan mimpi kalian? Mari kite wujudin bareng. Nyok ah. :)

Thursday, November 28, 2013

Puisi nemu di Youtube

Yang mencintai keindahan gunung-gunung yang mencintai kebebasan dan keleluasaan yang mencintai udara segar yang mencintai bumi mereka pergi ke puncak gunung-gunung mereka tengadah dan berkata di sanalah SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS pergi ke pangkuan bintang-bintang sementara bunga-bunga di negeri ini tersebar sekali lagi sementara sapu tangan menahan tangis sementara desember menebar gerimis

Saturday, November 23, 2013

Pelangi Kehidupan

Rabu 20 November 2013 secara tumben-tumbenan, saat ngumpul kali ini, gue dan dua temen gue, Hadi dan Owi ngambil tempat di Masjid Universitas Indonesia (MUI) haha. Biasanya, kami bareng temen-temen yang lain itu ngumpul ya kalo gak di Kantin Sastra (Kansas) ya di ruang Dewan
Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) FIB UI, dan Alo -tempat makan langganan kami-.

Hmmm mungkin karena atmosfer MUI kali ya, setelah ngobrol berbagai hal, Hadi tiba-tiba ngomong soal pelangi kehidupan. Istilah dan cerita ini didapat Hadi dari Almarhum Ust. Zainudin MZ. Ini cerita pendek banget soal pelangi kehidupan itu kayak yang dibilang Hadi.

Suatu ketika, ada seseorang dengan kemampuan ekonomi dan latar pendidikan yang mapan mengendarai mobil Mercedez Benz dan melihat seorang tukang becak dipinggir jalan yang sedang santai menunggu penumpang. Dalam hati, si pengendara Mercy ini bilang. "Enak ya jadi tukang becak, hidupnya santai, gak ngurusin ini-itu," ujar si pengendara.

Di lain sisi, si tukang becak dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, pendidikan yang sepertinya tidak terlalu tinggi, melihat ke arah si pengendara mobil Mercy. Si tukang becak pun bergumam juga dalam hati. "Enak ya jadi yang naik mobil, adem. Pasti hidupnya enak," gumam si tukang becak.

Itu ceritanya (pendek ya? haha tapi emang begitu doang yang diceritain, but size doesn't matter, right?)

Nah, menurut Hadi, pelangi kehidupan dalam cerita ini adalah sudut pandang dan bagaimana kita bersyukur. Yah, pas dia bilang begitu sih, gue sama Owi ya manut-manut aja. Tumben nih orang ngomongnya bener, hahahaha.

Tetapi emang bener sih, kita pasti pernah denger istilah, rumput tetangga lebih hijau, which means kita sebagai manusia cenderung memandang apa yang dimiliki orang lain lebih berkualitas, atau lebih mengenakkan daripada apa yang kita miliki.

Padahal, itu semua belum tentu. Bisa aja lebih hijau tapi rumput sintetis, bisa aja lebih hijau tapi pake pewarna kimia berbahaya. Ya kan, who knows?

Poin yang didapet dari cerita ini menurut gue adalah bagaimana kita bersyukur dan mulai untuk tidak membandingkan diri kita dengan orang lain. Yuk!



Saturday, November 16, 2013

Italia, the silent killer



“Ah ngapain jagoin Italia, mending Brasil atau gak Prancis,” itu kata-kata temen gue ketika SMA saat ngobrol soal siapa juara Piala Dunia 2006. Ya, banyak temen-temen gue yang saat itu ‘meremehkan’ Italia untuk jadi juara. Apalagi, sebelum PD 2006, sepakbola Italia diguncang skandal calciopoli. Tetapi cibiran tinggal cibiran, toh sekarang tercatat Italia, juara PD 2006.

Alasan gue menamakan Italia the silent killer adalah karena disetiap turnamen dunia, tim yang saat ini diasuh Cesare Prandelli itu hampir gak pernah jadi favorit-favorit banget dibanding Brasil, Jerman, atau Spanyol. Udah gitu, dibanding ketiga tim tadi, permainan Italia emang gak istimewa-istimewa banget lah, gak ada tiki-taka atau jogo bonito. Italia juga jarang menang dengan cetak banyak gol disatu pertandingan.

Tuttavia, l'Italia ancora Italia, signor (google translate :p), Italia tetap setia dengan permainan kunci gerendel cenderung lamban yang belakangan berubah pola jadi 3-5-2. Hasilnya? Empat kali juara dunia (terbanyak kedua setelah Brasil, terbanyak pertama diantara negara Eropa), satu kali juara Eropa, dua kali runner up PD dan Piala Eropa.

Alasan kedua adalah dari para pemain Italia. Menurut gue para pemain Italia ini gak kayak para pemain dari negara lain yang bintang-bintang banget. Mereka pemain ‘biasa’ tapi ketika main, hmmmm Gue mengibaratkan gini, pelan, pelan, pelan tau-tau menang aja Hahaha.

Terakhir adalah permainan Italia itu sendiri yang cenderung lamban. Entah kenapa gue merasa itu jadi semacam panutan. Gue ingin seperti Italia, slow but sure,  ‘bukan’ tim hebat tapi menghanyutkan. Gak banyak bicara tetapi prestasi ada dan rendah hati.

Itulah kira-kira alasan kenapa gue suka sekali timnas Italia, hehe. Ada yang sepaham?

Semoga, di PD 2014 nanti, Italia bisa mematahkan siklus 12 tahun mereka dengan jadi juara dunia untuk yang kelima kalinya. Aaamiiin.

“The great quality of this team is that
they are always able to give their best,”
-Cesare Prandelli-

Sunday, November 10, 2013

Sajak hari pahlawan

Di perempatan jalan di malam itu di Jakarta
Aku lihat seorang kakek, duduk meminta-minta
Kakek ini mungkin ikut berjuang dulu
bertelanjang dada membawa bambu runcing
di garda terdepan melawan penjajah Belanda.

Tapi apa daya kek, kini Indonesia sudah merdeka, kata mereka.
Masalah nasibmu kau urus sendiri
Sebab sejarah hanya mencatat para komandan, jenderal, dan para atasan
Pion sepertimu....
Ah yasudah
Mungkin itu sebabnya. Kini banyak orang mau jadi presiden, atau katakanlah pejabat
Yang penting tercatat di sejarah, masalah kontribusi urusan nanti.

Pantang kita meminta
Sebab kata mantan presiden Amerika yang kulupa namanya
Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu. Tapi tanyakan apa yang kau telah berikan kepada negaramu

Selamat hari Pahlawan.

Thursday, September 26, 2013

Setangkai doa di subuh itu

Di subuh itu
aku lihat ibu
khusyuk mendekapkan tangan
Berdoa
agar harga tempe, tahu, telur, ayam
dan beras tak mahal lagi

Di subuh itu,
aku lihat bapak
fasih merapalkan dzikir
Berdoa
agar aku dan adik bisa terus sekolah
ditengah himpitan ekonomi.

Di subuh itu
Aku lihat kakak
Tertunduk lama dalam sujudnya
Berdoa
Agar esok dia sudah bekerja
ditengah jutaan pencari kerja yang menganggur

Di subuh itu
Aku berdoa

"Wahai Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan para pejabat terhormat
Maukah kalian, berhenti jadi penipu, berubah jadi tangan Tuhan, untuk merangkul doa-doa keluargaku?"

Thursday, September 5, 2013

Pada sebuah percakapan

Malam itu, di Jakarta kita
Mobil-motor berkeliaran buat udara jadi sesak
Sementara nyala lampu merah dan kuning,
bergantian menyilaukan mata

Di pinggir jalan di sebuah riuhnya warung makan
Kita duduk berpandangan
Terlibat dalam sebuah percakapan
Aku menjelma jadi bumi. Sabar.
Menanti engkau yang cantik menjelma jadi segala

Wangi makanan yang kita pesan
dan penyanyi jalanan
menjeda disetiap senyum simpulmu yang manis
dan kata-kata yang perlahan kau rajut jadi cerita

Sejenak kita berhenti
menyuap makanan
yang mungkin tak lagi hangat sejak tadi

"Akankah ada lagi malam ini," gumam si bumi
Dari kejauhan, sang waktu lamat-lamat mengakhiri kesenangan si bumi,
menyelinap dan berbisik dalam kata

Pulang

Friday, August 23, 2013

Kepada Sang Penyair

Pertama kali mengenalmu adalah Aku Ingin
Kukira itu puisi cinta, tak tahunya tentang patah hati, benarkah begitu?
Sejak saat itu kau seolah menjadi candu
Menghiasi pesan-pesan, ataupun kata-kata yang aku tuliskan
Yang kedua adalah Hujan Bulan Juni
Sedang ketiga adalah Sajak Kecil Tentang Cinta

"Mencintai cakrawala harus menebas jarak
MencintaiMu harus menjelma aku"


Terus dan terus


"Yang fana adalah waktu. Kita abadi:"

Kesederhaan kata-katamu adalah satu keluarbiasaan tersendiri
Sederhana tapi membuatku menerka-nerka makna
Ah, kadang kita tak perlu repot toh
cukup menikmati saja

Maaf jika ini adalah suatu bentuk kekurang ajaran
atas syair-syairmu
Sebab aku tak tahu lagi
jalan menganggumimu
selain puisi.

Tuesday, August 20, 2013

Boen Tek Bio, Satu Gerbang Sejarah Kota Tangerang

Sekilas, tidak ada yang berbeda dari Pasar Lama di Kota Tangerang dengan pasar-pasar tradisional lainnya: kesibukan para pedagang yang bernegosiasi dengan para pembeli, berpadu padan dengan lalu-lalang kendaraan yang tersendat karena macet.

Tetapi di antara riuh dan klisenya pemandangan Pasar Lama, ada bangunan yang menjadi salah satu pintu sejarah Tangerang. Terhimpit di gang sempit, di antara rumah-rumah tua dan aktivitas pasar, tepatnya di Jalan Bhakti No. 14, klenteng Boen Tek Bio masih tegap berdiri kendati usianya sudah 300 tahun lebih. Boen Tek Bio, adalah klenteng tertua di Tangerang.

Saya mengunjungi klenteng yang diperkirakan dibangun pada 1684 itu tiga tahun lalu. Bau Hio yang menyengat dari orang-orang yang khusyu bersembahyang, lalu-lalang para pengunjung, dan patung singa (Cioh Sai) adalah bagian dari Boen Tek Bio yang pertama kali menyambut saya saat itu. 

Beberapa orang tua sedang duduk di sisi kiri klenteng di bawah sebuah bangunan yang saya perkirakan sebuah pos. Mereka mengobrol sambil asyik mendengarkan lantuntan lagu berbahasa Tiongkok.

Di depan klenteng, sejumlah pedagang sibuk menjajakan kuliner khas Tangerang, yang sebagian besar kuliner perakanakan Tiongkok antara lain dodol Cina dan Laksa.Kesemua itu membuat sebutan Pecinaan-nya Tangerang yang tersemat pada daerah Pasar Lama tepat.

***
Oey Tjin Eng sedang berada di dalam klenteng ketika saya masuk. Dia adalah rujukan bagi siapapun yang ingin bertanya soal sejarah Boen Tek Bio. Saya menemui Oey setelah mendapat informasi dari orang-orang yang saya temui tadi di pintu masuk.

Oey menjelaskan, pembangunan klenteng tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang yang terbagi menjadi dua gelombang.

Gelombang pertama tercatat dalam sebuah kitab sejarah Sunda bernama Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan). Dikisahkan, rombongan Tjan Tjie Lung (Halung) yang hendak pergi ke Jayakarta terdampar dan mengalami kerusakan perahu di Teluk Naga tepatnya di muara sungai Cisadane tahun 1407.

"Rombongan itu semula ingin ke Jayakarta. Namun terdampar dan kapal mereka juga rusak. Di saat yang sama, mereka membawa sembilan orang gadis cantik yang akhirnya disunting oleh prajurit Sanghyang Anggalarang dengan kompensasi sebidang tanah," ujar Oey.Sementara itu, para laki-laki dalam rombongan itu akhirnya menikah dengan penduduk setempat dan memunculkan istilah peranakan Tionghoa. Oey lebih suka menyebutnya sebagai integrasi.

Selanjutnya tutur Oey, peranakan ini kemudian membuka lahan baru di Desa Pangkalan, Teluk Naga. Di sana, mereka mengaku sebagai Tang Lang atau Tang Ren yang berarti orang dinasti Tang.

Saya kemudian berkata kepada Oey mungkin dari sini lah asal usul nama Tangerang.

"Mungkin saja, namun itu butuh penelitian lebih lanjut," kata Oey.

Dari Desa Pangkalan, mereka kemudian membuka lahan di daerah Pasar Lama, Pasar Baru dan Serpong. Oey melihat hal ini dari adanya tiga klenteng tertua di daerah tersebut. "Klenteng-klenteng itu adalah Boen Tek Bio di Pasar Lama, Boen San Bio di Pasar Baru, dan Boen Hay Bio di daerah Serpong," kata Oey.

Dirinya juga mengungkapkan, pada tahun 1513 menurut sejarawan asal Portugis, Tom Pires, sudah ada komunitas Tionghoa di Tangerang, jauh sebelum Belanda datang. Ketiga klenteng ini kata Oey memiliki makna, kebajikannya setinggi gunung dan seluas lautan.

Ahli Sinologi dari Universitas Indonesia, Agni Malagina seperti dikutip Kompas.com dari Majalah National Geographic Indonesia punya penjelasan soal tiga klenteng ini. Menurutnya, pembangunan ketiga klenteng ini tak terlepas dari ilmu fengshui.

"Tiga klenteng itu membentuk satu garis lurus," katanya. "Saya sudah membuktikannya."Jika tiga klenteng—Boen San Bio, Boen Tek Bio, Boen Hay Bio—dihubungkan dengan garis imajiner, terbentuklah satu garis lurus yang rentang jaraknya sekitar 16 kilometer.

"Boen San Bio melambangkan gunung, Boen Hay Bio melambangkan laut," ujarnya. "Nah, [di tengah-tengah] Boen Tek Bio adalah naganya."

Gelombang kedua kedatangan masyarakat Tionghoa ke Tangerang terjadi pada tahun 1740. Saat itu, di bawah pimpinan Gubernur Jendral Adrian Valckenier, berlangsung pembantaian terhadap warga Tionghoa yang berada di Batavia. Akibat pembantaian itu, warga Tionghoa melarikan diri ke beberapa daerah termasuk daerah Tangerang diantaranya ke Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, Pondok Pinang dan disekitar Tegal Pasir yang kini bernama Kali Pasir.

Bukti sejarah ini kata Oey, meluruskan beberapa pandangan masyarakat yang menganggap warga Tiong Hoa adalah warga pendatang di Tangerang. “Yang membuka lahan di Tangerang ini sebenarnya orang-orang Tionghoa juga. Kan awalnya dari kapal Tjan Tjie Lung itu,” papar pria yang sudah 12 tahun menjadi pengurus klenteng Boen Tek Bio.

***

Boen berarti intelektual, Tek berarti kebajikan, dan Bio berarti klenteng kata Oey menerangkan soal arti nama Boen Tek Bio. Dalam sejarahnya, klenteng ini beberapa kali mengalami perbaikan. Perbaikan pertama terjadi pada tahun 1844. Saat itu, ruang tengah klenteng yang mendapat giliran. Selanjutnya, perbaikan kembali dilakukan, kali ini pada bagian kiri dan kanan klenteng. yang berlangsung pada tahun 1975. Dan terakhir, di tahun 1904, perbaikan dilakukan pada bagian depan klenteng.

“Perbaikan itu mendatangkan langsung ahli dari Tiongkok, dan sewaktu perbaikan, barang-barang seperti patung dipindahkan ke Boen San Bio. Di tahun 1856 juga sempat diadakan arak-arakan Toe Pek Kong yang pertama di Tangerang. Tujuannya untuk menolak bala dan agar warga Tangerang selalu sejahtera,” ujar Oey.

Warna merah sangat mendominasi klenteng. Itu memang sudah menjadi ciri khas klenteng sejak dari dulu. Selain warna merah, warna lain yang selalu digunakan dalam kelenteng adalah warna putih, hitam kuning, dan hijau. “Kalau tidak ada hijau, biru juga bisa,”  ujar Oey.

Ada semacam tata cara bagi para pengunjung yang untuk menelusuri klenteng ini.

Pengunjung yang akan beribadah, harus masuk melalui pintu yang bernama Pintu Kesusilaan sebelum akhirnya keluar melalui Pintu Kebenaran. Penerapan seperti ini bukan tanpa makna apapun. “Seseorang yang mengerti akan makna kesusilaan baru mengerti jalan kebenaran,” kata pria yang sudah 12 tahun menjadi pengurus kelenteng Boen Tek Bio.

“Setiap klenteng selalu memiliki tuan rumah. Dewi Kwan Im adalah tuan rumah di sini,” Oey menjelaskan. Maksud dari adanya patung Dewi Kwan Im di sini adalah agar umat yang datang beribadah ke Boen Tek Bio, bisa mengambil contoh dari perilaku dewi yang terkenal dengan sebutan dewi welas asih itu.

“Kalau ada yang menyebut kami menyembah berhala, sebenarnya keliru. Itu hanya simbolis bagaimana kita bisa seperti dia. Seperti di gereja, ada Yesus Kristus dan tanda salib. Mereka kan  orang-orang yang pernah berjasa kepada umat manusia,” kata Oey menerangkan. 

Selain patung Dewi Kwan Im, banyak sekali benda-benda tua di kelenteng Boen Tek Bio.  Salah satunya adalah sebuah genta atau lonceng besar yang dibuat di Tiongkok oleh perusahaan pengecoran Ban Coan Lou pada tahun ke-15 periode To Kong It Bi (1835). Di badan lonceng ini terdapat tulisan hong tiau I sun kok thai bin an yang memiliki arti, semoga cuaca baik dan menguntungkan bagi tanaman di sawah ladang, semoga negara damai dan sejahtera. Di halaman depan kelenteng terdapat Thian Shin Lou atau Thian Gong Lou yang disumbangkan oleh Oei Goat Hoa pada tahun ke-19 periode To Kong Ki Hai (1839). Benda ini berfungsi sebagai tempat menancapkan hio untuk Tuhan Yang Maha Esa.

Sayangnya, meski sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, perhatian pemerintah setempat dinilai masih minim.

“Kita swadaya mengelola kelenteng ini,” kata Oey.

Puas mendapat informasi soal klenteng ini, saya berpamitan kepada Oey. Sebelum itu, Oey memberikan saya buku soal Boen Tek Bio. 

Berkaca pada apa yang disampaikan Oey, Boen Tek Bio bisa jadi salah satu gerbang untuk masuk ke sejarah Kota Tangerang. Kota yang kini menjadi salah satu kota satelit penyangga ibukota Jakarta. Kota yang kini ramai dengan para penduduk dari berbagai macam ras, suku, dan agama. Yang hidup dengan statusnya sebagai Kota Industri.


Wednesday, July 10, 2013

Kutipan pesepakbola Muslim

Tetiba ingin buat ini ketika lihat artikel pesepak bola muslim di Eropa. Ini beberapa kutipan ucapan mereka yang mungkin bisa menginspirasi.

"Maaf, aku tidak minum alkohol. Aku Muslim," - Yaya Toure saat perayaan juara EPL Manchester City dua musim lalu-

"Manajer selalu tak senang dengan kondisi ini (bulan Ramadan). Tetapi, aku berkata, 'Dengarkan, aku akan tetap melaksanakannya. Bila performa  bagus, aku akan tetap bermain. Tetapi bila menurun, silakan singkirkan aku ke bangku cadangan'," -Demba Ba (Chelsea)

Ini yang paling luar biasa menurut saya

"Agamaku adalah hal terpenting dalam hidup ini. Ya, Islam jauh lebih penting dari sepak bola sekalipun," -Demba Ba-

Sumber: duniasoccer

Suatu waktu di Jakarta

Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras
Hampir semua orang mengeluh
Kulihat
Seorang bocah, duduk di pinggir halte
memegang ukulele yang senarnya dari karet

Tak mengerti pikiran orang lain
Yang ia tahu,
Besok aku harus makan
Soal mengeluh, belakangan saja

Aku seperti mendengarnya berkata

Jangan menangisiku kawan
Sebab aku pun tidak menangisi nasib
Tuhan telah menciptakanku dengan dua tangan
untuk memegang ukulele ini
mencari uang


Dia mengajariku kehidupan




Thursday, July 4, 2013

Ajal yang gak akan pernah tertukar

Kejadian ini saya alami kemarin malam. Mungkin, banyak dari kalian mengalami hal yang sama.

Kemarin malam pukul 22.00, saya sudah bersiap untuk pulang dari tempat biasa saya liputan, Gelora Bung Karno. Sebenarnya, saya agak ragu untuk pulang kerumah malam itu karena jarak yang lumayan jauh dan angin yang bisa saja membawa penyakit. Tetapi, saya memutuskan untuk tetap pulang. Motor pun saya nyalakan.

Dijalan, entah kenapa saya merasa Allah sudah memberikan tanda-tanda yang seolah berbicara, sudah jangan pulang saja, nginap di rumah teman saja. Motor-motor yang lewat sembarangan, membuat saya was-was. Tetapi saya bersikeras ingin pulang dan bertekad untuk hati-hati di jalan.

Sampai di daerah Kemanggisan, tanda itu terasa benar. Saya menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak. Saya terjatuh. Namun, Alhamduillah, hanya luka kecil yang saya dapat plus angin semeriwing yang menerobos masuk dari celana saya yang robek :). Mobil yang saya tabrak? entah kabur kemana. Mungkin dia takut, dihakimi orang-orang sekitar yang memang menilai, mobil itu yang salah dan bukan saya.

Setelah dibantu orang-orang sekitar untuk bangun, saya pun melanjutkan perjalanan. 20 menit berjalan, saya tiba di daerah Meruya yang masih macet. Saat itu sekitar pukul 11.00 malam. Saya kesal kenapa masih macet saja. Tiba-tiba, Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Ada seseorang yang juga mengalami kecelakaan. Macet yang saya alami rupanya karena mayat orang itu yang masih tergeletak dijalan dan ditutup koran.

Di sisa perjalanan, saya berpikir namun bukan bermaksud jahat. Entah kenapa saya bersyukur saya bukan orang itu dan saya masih diberi kesempatan untuk meneruskan perjalanan dan menemui orang-orang rumah.

Ya Allah, panggilan pulangMu sungguh tak akan pernah tertukar. Andai saya orang itu. Mungkin orang itu yang akan menulis tulisan ini. Bukan saya.







Monday, July 1, 2013

GM dan kekuatan pikiran

Sebenernya, tulisan ini udah mau gue upload dari lama. Tapi baru sekarang kesempatan itu datang.

Sekitar  tiga minggu lalu, waktu gue mau pulang dari Slipi ke Tangerang, seperti biasa, gue menunggu omprengan atau bus di depan Slipi Jaya. Gue yang saat itu cukup berkeringat karena abis jalan dari rumah nenek di belakang Peninsula ke Slipi Jaya, ngeliat mobil omprengan lewat. Teeees, sebuah Gr**d M*X (GM) (tadinya mau ditulis langsung, tapi takut kena UU ITE) lewat dan gue sebetulnya gak mau naek ini mobil sebab angin dari AC ni mobil cuma nyampe kursi depan aja. Apa boleh dikata, karena udah malem, yaudahlah kita mandi sauna aja sampe Tangerang.

Jreg, pintu paling belakang mobil itu pun gue buka, di dalam baru ada enam orang (supir gak diitung) dan gue pun naik. Singkat cerita, roman-roman kaga enak pun dimulai, nih mobil sebenernya udah penuh tapi si sopir asem juga, dia masih aja kekeuh kalo mobilnya masih muat untuk satu orang lagi. Setelah dibujuk calo, si sopir akhirnya jalan. Pintu pun ditutup bersamaan dengan mulainya kami penumpang belakang untuk mandi sauna.

1 menit 10 menit 30 menit, para penumpang khususnya yang duduk dibagian belakang mulai merasakan kegerahan termasuk gue. Wanita karier (tsah) yang duduk berhadap-hadapan dengan gue adalah yang paling mencolok ekspresi kegerahannya. Haha. Dia mulai nyerocos yang,hmm gue pikir sih bisa didengar sama si supir. Tapi yah paling si supir mah bodo. Mau naek sukur, gak yaudah.

Di lain sisi, gue sebetulnya kegerahan juga. Tapi gue inget salah satu nasihat yang gue dapet dari twitter. Kondisi apapun, sedih,senang, marah, itu tergantung kita untuk milih yang mana, kira-kira begitu nasihatnya. Gue coba mempraktekkan itu dengan menstimulasi pikiran gue untuk gak terlalu risau dengan rasa gerah itu. Gue coba cari hiburan dengan menatap si wanita karir ini. Dia dengan kondisi kegerahannya, lumayan menghibur. :p

Dengan pakaian kantor, wajar sih sebenernya kalau dia kegerahan. Cuma ekspresinya itu, haha. Hampir sepanjang tol Jakarta-Tangerang dia ngedumel. Sesekali, dia nelpon pacarnya (dugaan gue sih) untuk minta jemput. Dan entah kenapa, dia juga ngomel-ngomel ke yang ditelpon. Wah kalau seandainya emang pacar, stres juga kali ini cowonya punya cwe kaya gini. Ngomel terooouus hahaha. Gue sih mesam-mesem aja liat ni wanita karir.

Setelah sekitar 1,5 jam, kami akhirnya sampe di Islamic dan kemudian turun. Gue berpikir, ternyata nasihat itu bener. Apapun, susah, sedih, senang, itu tergantung pikiran kita. Gue gak menampik kalo gue juga kegerahan dan keringetan. Tetapi seenggaknya, gak terlalu kegerahan lah. hehehe. Eh, atau malah cara lucu (menurut gue) wanita karir itu sebenernya, yang bikin gue lupa sama rasa gerah? hahaha.

Monday, June 3, 2013

Indonesia, Malaysia, Singapura, melihat sepakbola dari web asosiasinya

Kira-kira dua hari yang lalu di kantor, editor mulai rewel dengan meminta saya menyetor berita lebih banyak. Sejenak, saya dongkol juga, karena dilapangan (PSSI) sepi berita dan isu. Tetapi, apa boleh buat, toh sudah tugas kantor. Pulang dari kantor, saya pun iseng membuka web PSSI untuk mencari isu. 

Berawal dari tab sepakbola wanita yang kosong melompong di web itu, saya pun berinisiatif untuk mengangkat isu perkembangan sepakbola wanita di Indonesia. Sebagai pembanding, saya pun membuka website asosiasi  sepakbola Malaysia (FAM) dan Singapura (FAS) untuk mencari perkembangan sepakbola wanita disana. 

Dari sekedar ingin tahu soal sepakbola wanita, tiba-tiba pikiran saya beralih ke perbandingan desain dan konten tiga web asosiasi tersebut.

Perpaduan warna kuning, putih dan rumput lapangan pada bagian background membuat web Football Association of Malaysia  (FAM) terkesan sederhana. Namun, jangan soal tata letak dan konten yang ditata rapih. FAM sepertinya ingin orang yang melihat 'pintu rumahnya' terkesan. 

Deretan logo official partner Liga Malaysia, dan Tim Nasional pada bagian bawah web sudah cukup berbicara, betapa mereka menata sepakbola dengan sungguh-sungguh. Hanya, saya tidak menemukan konten soal sepakbola wanita yang saya cari. Hanya ada nama pengurusnya saja.

Beralih ke web Football Associaton of Singapore (FAS), kombinasi warna merah marun dan putih pada bagian background akan menjumpai siapa saja yang berkunjung. Tetapi, warna itu akan berubah menjadi biru jika kita mengklik tab tertentu pada web itu. Serupa dengan FAM, FAS juga mengesankan mereka sungguh-sungguh membangun sepakbola. 

Hal tersebut bisa dilihat dari slogan Shaping the future of Singapore football yang terpampang jika kita klik tab National Team. Belum lagi logo sponsor yang juga terpampang pada bagian bawah web. Saya pun juga menjumpai FAS memiliki tiga kompetisi untuk sepakbola wanita di Singapura. Ah ketemu juga akhirnya.

Yah, setelah 'pergi ke rumah orang', kita pun harus pulang juga meski rumah kita reot. 

Jujur, kondisi web PSSI sungguh memprihatinkan. Warna biru yang gelap dan desain yang terkesan statis, seolah-olah mencermikan prestasi sepakbola nasional yang jalan ditempat. Hanya ada sejumlah berita yang tercatat masih bisa dibliang terkini. Sayangnya lebih banyak konten di web tersebut sudah lama. 

Keenam anggota komite eksekutif yang telah dipecat yakni (Farid Rahman, Mawardi Nurdin, Tuti Dau, Bob Hippy, Sihar Sitorus, dan Widodo Santoso) masih terpampang sebagai pengurus. Foto konferensi pers Luis Manuel Blanco sebagai pelatih Tim Nasional Senior, masih terpampang sebagai headline. Padahal, sosok pelatih asal Argentina itu sudah tidak jelas rimbanya usai dipecat. Belum lagi, tampilan peringkat 170 Indonesia di FIFA yang terpampang di sisi kanan web. Menyedihkan.

Tampaknya, sebelum menata sesuatu yang besar, kita harus menata yang kecil-kecil dulu. Sebab kalau yang kecil saja gagap menatanya, apalagi yang besar.

Website
FAM: www.fam.org.my
FAS: www.fas.org.sg
PSSI: www.pssi.or.id

Tuesday, May 28, 2013

Puisi itu..

Puisi paling bermakna itu tindakan
Puisi paling heroik itu perjuangan
Sedang
puisi paling cantik itu......



Kamu