Showing posts with label verhaaltje. Show all posts
Showing posts with label verhaaltje. Show all posts

Tuesday, March 24, 2015

Cerita Horor Kantor

Sebenernya ini udah sering dialami sama temen-temen yang lain, termasuk gue. Tetapi, ekskalasinya baru gue alami pas piket kemarin.

Senin dini hari, jam tiga pagi. Gue hanya berdua dengan temen gue yang kebagian kanal news. Kebetulan pas gue piket itu, lagi banyak pertandingan bola yang main. Alhasil, gue begadang deh (Biasanya gue bisa tidur di sela-sela jam piket).

Nah, pas gue lagi asik mantau match bola, tetiba ada suara bangku yang digoyang-goyang. Keras banget bunyinya. Bangku itu ada di kubikel lain yang gue pikir enggak jauh dari kubikel punya gue.

Gue yakin itu bukan temen gue karena temen gue lagi ambil wudhu di keran yang ada di balkon samping lantai empat, tempat gue kerja. Pas dia masuk, gue tanya lah dia.

"Lu denger gak bang? Ada suara bangku digoyang-goyang,"

Awalnya dia gak nyadar. Eh pas dia lagi ngobrol sama gue, itu bangku bunyi lagi. Gue sama dia langsung paham kalau itu kerjaannya penunggu kantor gue, khusunya penunggu lantai empat.

Sialnya, enggak lama setelah bunyi bangku itu, temen gue pulang. "Ada urusan," begitu kata dia. Alhasil, gue pun sendirian di lantai itu. Sebetulnya ada sih orang lagi, tapi dia anak copywriter yang jarak kubikelnya jauh banget dari kubikel gue. Jadi suara yang asalnya dari kubikel gue dia engga bisa denger jelas. Pun sebaliknya.

Selepas temen gue balik, gue ngerasa kaya terus diamatin. Gue lagi nonton tv, gue ngerasa ada sesuatu yang lagi jalan di belakang gue. Jelas gue parno, mata gue terus aja ngeliat ke bagian-bagian gelap yang ada di lantai itu. Tapi Alhamdulillah, itu mahluk enggak mutusin buat mejeng di depan gue.

By the way, kenapa gue bilang hal kaya gini lazim? Sebab kantor gue itu dulunya rumah zaman Belanda. Nah, kata temen gue yang punya kemampuan supranatural, itu mahluk nongkrongnya di toilet cewe. Sebab temen gue pernah diikutin dan dikasih liat.

"Dia (mahluk itu) cuma mau maen aja," kata temen gue, yang ngakunya pernah ngobrol sama itu mahluk.

Masih banyak cerita horor dari kantor gue ini. Yang ngalaminnya bukan gue melainkan temen-temen gue yang lain. Redaktur gue ngaku pernah liat Mr. P di salah satu bagian lantai empat.

The Beginning (Again)

Gila, udah lama banget gue gak ngepost di sini. Hahaha. Postingan terakhir gue di blog ini itu pada Februari 2014. Itu artinya, udah satu tahun lebih sebulan, gue gak mejeng di blog gue yang satu ini.

Gak tahu mulai kapan, gue emang lebih sibuk mejeng di blog gue yang satunya lagi di ruangpenapay.tumblr.com. Penyebabnya, di tumblr itu interface plus desainnya lebih simpel. Ditambah, gue emang memfokuskan blog tumblr itu untuk muat tulisan-tulisan gue yang berkaitan dengan sepak bola. Kalau di blog yang ini, lebih ke seninya: puisi, cerpen, photosopan dll.

Nah, belakangan, gue agak gak eksis atau gak mood bikin puisi atau semacamnya. Kalau pun bikin, paling gue post di path. Karena di situ banyak yang lihat, ketimbang gue harus tag link blog ini ke path gue. Yaudah deh, makin jadi ini blog gue tinggal. Lagian gue ngerasa belum terlalu berbakat untuk soal puisi dan semacamnya. 

Dulu sih emang sering bikin karena sumbernya kegalauan gue. Wakakakak. Kalau sekarang sih karena udah jarang galau (sori, apaan tuh galau, gak pernah kenal :p) jadi jarang bikin puisi. Palingan gombalan-gombalan enteng yang kayaknya terlalu simpel kalau buat dimasukan ke blog.

Sekarang, gue coba deh untuk aktifin lagi blog gue yang ini. Sebisa gue deh, gue bakal isi sama puisi-puisi atau cerpen, or segala unek-unek gue kecuali soal sepak bola, karena kan kalau bola udah ada blog yang di tumblr.

Gue coba mulai dari desainnya ya. Gue pengin yang simpel aja. Kaya tumblr gue;Judul, artikel, udah. Enggak pakai embel-embel desain yang ribet. Soalnya kan nanti jadi lemot.

So... Lets start it!!



Tuesday, February 12, 2013

#Fiksi: Andai Rojak Anak Menteri



Pagi itu, Matahari masih malu-malu untuk pergi menyinari Bumi. Tapi Rojak sudah bersiap untuk pergi bekerja. Handuk putih dileher, kaos oblong, dan celana coklat 3/4, adalah ‘pakaian dinas’ Rojak sebagai supir angkot jurusan Kampung Tabung-Rawa Segitiga. 

Sudah 25 tahun lebih, Rojak menjalani profesinya, kemacetan kota sudah menjadi makanan sehari-hari. Sebagai lulusan SMP, memang tidak ada pekerjaan lain yang pas untuk Rojak. “Sarjana saja susah cari kerja, apalagi yang cuma lulusan SMP.” Keluh Rojak dalam hati. Namun Rojak tetap bersyukur, karena dia masih bisa menghidupi istri dan dua orang anaknya yang masih bersekolah dasar.

“Pergi dulu ya bu,” ucap Rojak kepada istrinya.

“Hati-hati bang, jangan macam-macam, ingat selalu sama Allah,” ucap istrinya dengan perasaan khawatir. Maklum saja, belakangan ini marak kasus kejahatan yang terjadi di angkutan umum. Istri Rojak khawatir, kalau-kalau suaminya menjadi korban fitnah bekerjasama dengan para penjahat yang kerap beraksi.

“Iya bu, Insyaallah aman-aman saja. Percayakan semua kepada Allah,” ujar Rojak dengan nada menenangkan.

Sembari menyeruput kopi yang masih tersisa, Rojak pamit dengan bekal cium tangan sang istri.

***
Jam sudah menunjukan waktu makan siang. Seperti biasa, Rojak beristirahat di warung makan yang terletak di samping Terminal Persegi. Bersama para supir angkot lain, Rojak asyik menyantap nasi, sayur asem, ikan asin, tempe, dan sambal yang menjadi menu favoritnya. Sambil makan, mata Rojak dan kawan-kawan sopir angkot lainnya menatap ke arah televisi butut kepunyaan Pak Parjo, si pemilik warung makan. 

“Pemirsa, anak Menteri Peternakan Bebek berinisial AR yang lalai saat mengemudikan mobilnya sehingga menyebabkan dua nyawa melayang, ternyata tidak ditahan pihak kepolisian. Pihak Kepolisian beralasan, sudah ada jaminan dari keluarga bahwa AR tidak akan kabur. Selain itu, AR diduga mengalami trauma psikologis atas kejadian yang menimpanya tersebut.” Ujar pembawa acara berita di televisi itu.

“Enaknyaaaa, jadi anak menteri,” kata Pulung, teman Rojak. Ucapan Pulung langsung disambut oleh riuh ramai supir lain yang juga menyaksikan berita tersebut.

Rojak sendiri seusai makan dan ikut ngobrol soal berita tersebut, segera pergi ke Musholla untuk menunaikan shalat zuhur. Empat rakaat dia tunaikan, tangan Rojak memanjatkan doa kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, agar dirinya selalu dalam lindungan dan mampu menafkahi keluarganya.

Seusai berdoa, Rojak kembali ke rutinitasnya. Menarik angkot.

***
Di Pertigaan Rawa Segitiga, seorang penumpang wanita menaiki angkot Rojak. Di dalam angkot, penumpang yang tinggal seorang itu terus melihat ke arah luar, seperti orang sedang tersesat. Karena penasaran, Rojak pun akhirnya memutuskan bertanya.

“Mau kemana mba?” tanya Rojak.

“Saya mau ke Kampung Kubik bang,” jawab si wanita dengan keadaan cemas.

“Wah salah naik angkot kalau gitu mba.” Balas Rojak.

Merasa kasihan, Rojak pun memutuskan untuk mengantar si wanita itu untuk kembali ke terminal agar si wanita bisa menaiki angkot yang benar. Agar lebih cepat, Rojak memutuskan mengambil jalan pintas.

***
“Assalamualaikum , buuuu.” Terdengar Tuti dan Tono, dua anak Rojak baru saja pulang sehabis bermain di rumah tetangganya.

“Walaikumsalam, aduuh lama sekali mainnya, kan sudah jam tiga, harusnya sudah siap-siap untuk makan dan pergi mengaji. Ayo, langsung mandi sana.” Kata istri Rojak.

“Baik bu,” jawab Tuti dan Tono kompak.

Sembari menunggu anaknya selesai mandi, istri Rojak menyetel televisi 14 inc butut, persis seperti kepunyaan Pak Parjo,  untuk melihat berita terkini.
***
Air mata mengucur di pipi istri Rojak diiringi dengan perasaan tidak percaya melihat berita di televisi. Anak-anaknya yang baru saja selesai mandi dan bersiap pergi mengaju dirangkulnya. Dengan pasrah istri Rojak berucap.

“Ya Allah, kenapa Pak, apa ini benar?” ucap istri Rojak lirih.

Televisi memberitakan seorang penumpang tewas setelah melompat keluar dari angkutan kota yang dinaikinya. Penumpang yang berinisial DA itu melompat, karena takut dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh si sopir. Dari penuturuan  sopir angkot yang beinisial R-J-K, dirinya sebenarnya ingin mengantarkan sang penumpang ke terminal, agar menaiki angkot yang benar. Namun ditengah jalan, penumpang itu tiba-tiba melompat keluar. Karena melihat penumpangnya terluka. R-J-K berhenti lalu membawa penumpang itu kerumah sakit. Namun sayang, setelah beberapa jam dirawat, penumpang itupun tewas.
Kini R-J-K mendekam di sel tahanan Polisi demi perkembangan penyidikan. Jika terbukti bersalah, R-J-K diancam hukuman penjara selama enam tahun.

***

Andai Rojak anak menteri,
tentu dia tidak akan menjadi supir angkot
Andai Rojak anak menteri,
bisa saja dia tidak di tahan dan tetap bebas.
Ah….…
Malang nian nasibmu Rojak
Dimana sang Themis berada?

Friday, February 3, 2012

Ketika Jibril, Israfil, dan Setan duduk bersama


Suatu Hari, jauh di langit atas Bumi, Tempat para malaikat Allah tinggal. Jibril dan Israfil sedang terlibat obrolan santai sambil duduk dan meminum susu segar yang diambil dari surganya Allah. Maklum, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Jibril tidak lagi bertugas menyampaikan wahyu. Sedangkan Israfil belum bertugas meniup sangsakalanya sebagai pertanda akhir dunia.

Jibril: Hai temanku Israfil

Israfil:    Ada apa wahai temanku Jibril? Kata Israfil sambil membersihkan sangsakalanya.

Jibril:      Aku pusing dengan hamba Allah yang satu ini.

Israfil:    Manusia maksudmu?

Jibril:      Ya. Jawab Jibril singkat.

Israfil:    Mengapa kawan? Tanya Israfil.

Jibril:      Bagaimana tidak teman, tugasku menyampaikan wahyu sudah selesai, eeeh sekarang ada manusia mengaku nabi setelah mendapat wahyu dari ku. Padahal kenal denganku pun tidak.

Israfil:     Begitulah manusia kawan. Sudah diberi akal pikiran oleh Allah tapi malah menggunakannya dengan salah. Ilmu Allah mereka gunakan untuk berperang, menciptakan senjata padahal mereka menyerukan perdamaian , korupsi, dll. Soal itu, kemarin aku mendapat surat dari Bumi. Dalam suratnya Bumi ingin aku menyampaikan pesannya kepada Allah agar memerintahkan aku Israfil, meniup sangsakala tanda akhir dunia. Bumi berkata bahwa ia sudah tidak kuat melihat ulah manusia mengeksplorasi perutnya secara brutal.

Jibril:      Sudah kau balas surat itu?

Israfil:    Sudah, kukatakan pada Bumi “Bersabarlah karena Allah Maha Mengetahui”.

Jibril:      Benar, Allah Maha Mengetahui dan kita selalu percaya kepadaNya. Sahut Jibril sambil mengangguk setuju.

Israfil:    Mengenai manusia, sebenarnya aku juga sedikit pusing dengan manusia.

Jibril:      Ada apa kawan? Tanya Jibril penasaran.

Israfil:    Begini, sudah jelas bukan, bahwa tidak ada satupun mahluk Bumi yang tahu kapan aku kan meniup sangsakala atau dengan kata lain hari kiamat. Tapi manusia begitu sombong, mereka pikir dengan teknologi yang mereka punya dapat menandingi perkataan Allah. Ada segolongan manusia yang mencoba berusaha mengatakan bahwa kiamat tanggal sekian bulan sekian. Sungguh keterlaluan mereka.

Tiba-Tiba Setan datang menyela obrolan Jibril dan Israfil. Seperti biasa, dia datang dengan sombong sambil membusungkan dada.

Setan:    Hohohoho, aku dengar apa yang kalian bicarakan wahai malaikat Allah.

Jibril:      Wahai Laknatullah, apa yang kau lakukan disini? Dasar kau, mengganggu saja.

Setan:    Wowooooow, sabar kawan. Aku baru saja selesai menggoda laki-laki dari golongan manusia untuk berbuat zina di dalam angkot. Hohohoho. Mereka itu mudah sekali ya digoda. Hahahaha!!!

Israfil:    Astagfirullah, satu lagi kemaksiatan terjadi di Bumi. Kata Israfil sambil menduga-duga bahwa besok mungkin Bumi akan mengirimkan surat yang isinya sama kepada dirinya. Yakni Segerakanlah!!!

Jibril:      Begitu mudahnya mereka tergoda, Kata Jibril lirih.

Setan:    Hahahaha benar katamu Jibril. Kata setan dengan nada angkuh. Sekali saja kubisikan kemaksiatan, mereka langsung melakukannya tanpa piker panjang. Hahaha sepertinya cahaya iman mulai padam dari hati mereka. Hohohoho

Israfil:    Dengan kata lain, tugasmu menjadi lebih mudah, begitu?? Tanya Israfil kepada Setan

Setan:    Hahaha, ya begitulah kira-kira. Pekerjaanku tak lagi mengasyikan. Menggoda manusia tak sesulit dulu. Sekarang aku terbantu oleh alat-alat yang mereka ciptakan sendiri misalnya Film porno, sistem politik yang korup dll. Hahaha sungguh memudahkanku melakukan tugas.

Jibril:     Apakah termasuk menggoda mereka untuk menjadi nabi palsu dan menduga-duga tentang hari kiamat? Apakah itu perbuatanmu juga?

Setan:   Oooooh ya tentu, hahaha manusia itu terkadang bodoh. Mereka pikir setan itu ya semacam kuntilanak, Genderuwo atau apalah itu, yang kerjanya hanya menakut-nakuti mereka. Padahal tanpa mereka sadari, aku ada dalam diri mereka sendiri, hahaha menggoda mereka, menjerumuskan mereka menjadi temanku di Neraka kelak, hahaha

Setelah sekian lama mengobrol, Setan pun memutuskan untuk pergi kembali menunaikan tugasnya. Menggoda manusia. “Harusnya manusia malu kepada setan. Setan begitu taat menjalankan tugasnya, sedangkan manusia, terkadang lalai terhadap tugas yang diberikan Allah kepadanya” bisik Israfil lirih dalam hati.

Setan:    Baiklah Jibril, Israfil, Aku pergi dulu. Nampaknya ada satu manusia lagi yang biasa kujerumuskan hari ini, hahahaha.

Ketika hendak Setan hendak pergi, Jibril bertanya lagi kepada setan

Jibril:      Wahai setan, dari golongan manakah yang sekarang paling banyak kau goda?

Setan:    Golongan anak muda kawan, hahaha mereka ku goda dengan Cinta, hahaha

Israfil:    Apa maksudmu? Tanya Israfil penasaran

Setan:    Sekarang banyak sekali anak muda mendewakan cinta wahai Israfil, hahaha. Mereka lupa bahwa cinta sejati hanya tertuju kepada Allah saja. Mereka dewakan kekasih mereka baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan ada yang sampai mengatakan “Aku tak bias hidup tanpanya” hahaha sungguh bodoh mereka itu, terpikat oleh perhiasan dunia yang sementara. Hahaha mereka pikir yang mereka rasakan adalah cinta, memang benar, tapi cinta yang telah aku racuni hahahaha. Mereka menjadi lemah karena cinta hahaha cengeng. Padahal tanpa mereka sadari ada yang membutuhkan cinta mereka, cinta yang mungkin akan mengantarkan mereka ke surga, mereka lupa bahwa disekitar mereka ada anak yatim, fakir miskin  dll. Mereka menjadi terlalu individualis, hahahaha. Kalian para malaikat Allah berdoa sajalah agar nantinya temanku di neraka tak lebih banyak dari kalian di surga.


Monday, January 23, 2012

Surat Kepada Ibu (sebuah surat atau cerita tak taulah)


1 Januari 2012

Suratku Kepada Ibu                            

Kepada Ibu 

Di Desa

Bu, bagaimana kabarmu di desa? Kuharap kau baik-baik saja disana, bagaimana tentang padi kita bu?  Apakah padi-padi kita masih akan menguning tahun depan? Kuharap begitu, aku ingin saat aku pulang ke desa nanti padi kita sudah panen dan tak ada lagi hama atau banjir yang datang. Bu, kabarku baik disini. Pak Jihan dan keluarganya memperlakukanku dengan baik disini, meskipun aku hanya seorang supir. Bu, aku cukup beruntung bisa mendapatkan pekerjaan ini. Meskipun ini tidak sesuai dengan gelar yang menempel di namaku RIZALDI S.T (Sarjana Teknik), tapi aku bersyukur karena mencari pekerjaan di kota itu ternyata sulitnya bukan main Bu. Aku ingat temanku Toni, dia lulus sarjana ilmu politik namun sampai sekarang dia belum mendapat pekerjaan. Dia berkata kepadaku seperti ini bu “Zal aku tidak akan bekerja di institusi politik manapun sampai politik di negeri ini bersih dari korupsi”. Sekarang Toni sudah meninggal bu, tanpa memperoleh pekerjaan. Kadang aku kasihan dengan Toni, sepertinya mimpinya terlalu mustahil untuk terwujud. Politik yang bersih.

 Bu, aku ingin bercerita tentang keluarga tempatku bekerja sekarang. keluarga pak Jihan, beliau mempunyai seorang istri dan dua orang anak, rumahnya cukup besar Bu, cukup untuk memasukkan sapi-sapi kita. Beliau bekerja di sebuah perusahaan sebagai direktur, sedangkan istrinya hanya bekerja di rumah. Bu, aku mempunyai impian kelak nanti aku ingin mempunyai keluarga seperti keluarga pak Jihan. Oh iya? Bagaimana kabar Rani disana? Apakah dia masih setia menungguku Bu? Kuharap begitu. Bu, ada yang tidak aku sukai dari keluarga ini yang membuat aku membatalkan mimpiku. Bukan soal mereka memperlakukanku, ataupun yang lain seperti pembayaran gaji ku melainkan soal suasananya Bu. Disini sungguh berbeda. Aku ingat selepas sore menjelang magrib kita selalu berbagi cerita bersama bapak tentunya, aku ingat ibu selalu bertanya tentang hari-hariku disekolah, aku ingat ibu dan bapak menemani ku belajar dengan lilin yang menjadi penerang rumah kita. Di keluarga Pak Jihan sungguh berbeda bu. Tak ada tegur sapa diantara mereka bu, mungkin ada namun aku jarang sekali melihatnya. Saat magrib misalnya bu, Pak Jihan sibuk dengan pekerjaannya sedangkan istri dan anak-anaknya sibuk menonton tv dan bermain hp. Tidak pernah kulihat Pak Jihan menyuruh anak mereka belajar, rasanya miris Bu, aku berpikir sepertinya mereka sudah gila teknologi,  aku merasa kasihan dengan anak-anak Pak Jihan. aku jadi berpikir betapa beruntungnya aku dulu, saat televisi hanya menjadi pajangan di rumah kita saat maghrib dan hanya menyala ketika acara berita yang Bapak Suka. Saat Bapak marah ketika aku menyalakan televisi selepas magrib dan tidak belajar. Saat kita menerima telpon  tentang kabar meninggalnya Bapak ketika bekerja di kota.

Bu, kalau saja mencari pekerjaan itu mudah, aku pasti sudah meninggalkan pekejaanku yang sekarang ini. Selain karena suasanannya, sebagai mahasiswa aku ingin pekerjaan yang lebih baik Bu, naluriku sebagai mahasiswa dan seorang laki-laki seperti memaksaku untuk meninggalkan pekerjaanku sekarang. Bu, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku. Kemarin aku sudah katakan itu ke Pak Jihan. Dia tidak terkejut Bu, dia berkata kepadaku semoga aku bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hatiku. Bu, doakan anakmu ini, maaf aku baru memberi kabar setelah sekian lama. Hp ku dicuri orang bu, catatan nomor telpon ibu pun hilang bersama hp ku. Sekarang aku tinggal bersama Raya bu, di sebuah kontrakkan kecil.  Aku beruntung bertemu dengannya sewaktu aku hendak pergi ke kantor polisi mengurus hp dan tas ku yang hilang. Raya adalah temanku semasa kuliah dulu. Raya adalah seorang yang ulet bu, dia tidak mau bergantung kepada nasib dan pemerintah yang menurutnya sudah kacau. Dia berkata kepadaku bu
“Zal kalau kau hanya terus mencari pekerjaan hari ke hari, kemungkinan kau akan gila karena sulitnya mencari pekerjaan. Kau lihatlah aku, aku sekarang, aku sudah punya usahaku sendiri, meskipun kecil tapi aku bangga karena aku bukanlah orang yang bergantung pada orang lain. Zal ingat kata-kataku; kita ini sarjana, MANTAN MAHASISWA, yang pintar yang di didik untuk peka terhadap sekitar. PANTANG BAGI KITA MENYERAHKAN NASIB KEPADA PEMERINTAH YANG SUDAH RUSAK DAN HANCUR INI”.

Raya sangat bersemangat ketika mengucapkan kata-kata itu. Maklum Bu, Raya adalah seorang mantan tukang demo sejati. Di mana ada demo dia selalu hadir dan berada di garda paling depan.
Sekarang dia membuka usaha bengkel dan aku membantunya bekerja sambil tetap setia mengirimkan surat lamaran kerjaku. Bu, aku mohon doamu sekali lagi bu, karena aku tahu doamu adalah jembatanku menuju kesuksesan.
Dari Anakmu Tercinta



Rizaldi S.T

Monday, January 2, 2012

Tentang Mimpi, Wanita, dan Mahasiswa

Kira-kira lima bulan yang lalu aku mengenalnya di depan beranda kampus ketika aku menghadiri (sebetulnya lebih tepat bila dikatakan kebetulan mendengar apa yang dia katakan, karena jujur aku sama sekali tidak berminat untuk menghadiri kajian tersebut) sebuah kajian yang memang rutin diadakan di beranda kampus kami, perawakannya sangat sederhana dengan celana panjang hitam (ah… tidak -tidak celana jeans maksudku) dan kemeja kotak-kotak berwarna pastel. Cara berbicaranya yang pelan namun sangat jelas membuat siapapun yang berbicara dengannya akan merasa segan untuk menyela atau memotong apa yang dia bicarakan karena dia pun tidak pernah memotong pembicaraan orang lain. Mendengarkan adalah kunci pengetahuan, begitu dia berkata dalam kajian tersebut. Entah mengapa ketika dia berkata seperti itu, aku merasa sangat tersentil (karena memang aku bukan pendengar yang baik) namun aku menyadari apa yang dia katakan itu benar. 

Setelah lama tak bertemu dengannya, kami pun ternyata ditakdirkan untuk menjadi teman (karena belakangan aku tahu kalau kami satu organisasi). Suatu ketika kami terlibat obrolan hangat (sehangat teh manis dan kue-kue yang kami makan saat itu, mungkin) obrolan tentang mimpi (maklum anak muda), tentang wanita (ini yang paling seru dan bikin galau) dan tentang kondisi kami sebagai mahasiswa (bisa kalian tebak tentang apakah itu?). Karena penasaran,aku bertanya lebih dulu. Tentang mimpi dia berkata bahwa dia ingin menjadi seorang bapak bagi anak-anaknya, bapak yang membimbing keluarganya ke surga (Amiiin).
 Lantas tentang pekerjaan? Tanyaku
“Aku ingin berdagang, seperti Rasul, namun rencana Allah tetap yang terbaik. jawabnya” (sangat agamis, setidaknya begitu menurutku)
“Bagaimana dengan dirimu?” tanyanya kepadaku
“Aku ingin berbakti kepada negaraku” (muluk bukan? Ya tapi itu lah mimpi yang kadang ujungnya hanya menjadi utopia).

Tentang wanita (ini yang paling kutunggu) kami saling bertukar tentang sosok yang kami idam-idamkan (sebagai anak muda, ya lagi-lagi sebagai anak muda tentu kami punya wanita idaman kami). Namun aku terkejut melihatnya yang membuka tas dan memberikanku sebuah puisi.
Tentang wanita bukan? Kau baca puisi ini, pintanya kepadaku. kira-kira seperti ini lah wanita idamanku Tanpa basa-basi aku baca puisi itu (sebentar, kalian tentu ingin membacanya juga bukan? Yasudah aku tuliskan  puisinya untuk kalian)

Kepada Edelweiss di Lembah Gunung
Kepada Edelweiss di Lembah Gunung yang tubuhnya tertutup kabut
Tempat nantinya aku bercerita tentang mereka yang hidup
Di rendahnya dataran kota
Tentang mereka yang lelah mencari makna kehidupan

Kepada Edelweiss di Lembah Gunung yang bunganya putih
Di Lembah perisitirahatan
Setelah lelah mendaki gunung kesiapan
Yang telah disiapkan Allah
Demi mulianya dirimu

Kepada Edelweiss di Lembah Gunung
Menjaga kelestarianmu adalah tugasku
Memandumu ke surga Illahi adalah amanah bagiku

Kepada Edelweiss yang semakin langka di Lembah Gunung
Kuharap bertemu denganmu
Suatu saat nanti
Saat telah habis kaki gunung kudaki


 (Ya itulah puisinya, bagaimana menurut kalian?) Tak lama setelah kubaca bait terakhir puisinya, dia pun bertanya kepadaku tentang sosok wanita yang aku impikan (tak kusangka dia punya rasa penasaran juga) aku tak akan kalah, aku pun punya puisi tentang wanita yang kuimpikan (bisa kalian simpulkan dari dialog kami bahwa wanita terkadang menjadi sumber inspirasi) ini puisiku kuharap kalian pun sudi membacanya

Nada Balerina Raihani
Nada
Seperti musik yang selalu kudengar
Yang selalu setia menemani
Menenangkanku dikala emosi meninggi
Menghentakku dikala aku terlalu lambat
membaca kehidupan yang terkadang
berlari lebih cepat
dan tak bisa kukejar

Balerina
Seperti mereka yang menari di atas sepatu balet
Melenturkan tubuhku yang terkadang terlalu kaku
menghadapi terjangan angin kehidupan
Meneguhkanku dikala aku limbung
dihantam badai ketidakpastian

Raihani
Seperti mereka yang tertawa dalam surga
Menjadi secercah cahaya untukku
yang akan tua dan mati di bumi
Menjadi terang di kala lampu-lampu kehidupan mulai padam
dan membawaku kepada gelap malam



Terakhir tentang kami sebagai mahasiswa (seperti ku katakan di awal bagian ini biar kalian yang menebak sendiri, dan jika kalian menebak ini soal masalah akademik dan keuangan kalian benar hahaha)
Tentang ini dia agak malu-malu menceritakannya. Padahal aku tahu nilainya cukup bagus. Kudengar kabar dia akan mencalonkan diri menjadi mahasiswa berprestasi. Jadi soal akademik nampaknya hanya aku yang mengalaminya, hahaha nilai ku tak terlalu tinggi karena memang tujuanku hanya untuk lulus (agak kontradiktif dengan mimpiku jika kalian membacanya tadi) dan memang harus kuakui aku bukan anak yang pintar namun aku tetap berusaha sungguh-sungguh. Aku ingat kalimat dari novel yang pernah kubaca (kupikir kalian pasti tahu judul novel ini) begini bunyi kalimatnya
Man Jadda wa Jadda
Man Shabara Zhafira

Soal keuangan ini yang agak sensitif, aku dan temanku ini sepakat bahwa kami akhirnya tiba di satu kesimpulan. Kampus kami mahal biaya kuliahnya. Rasanya ingin ku ganti moto kampusku menjadi “Mau pintar kok mahal?” (tapi sayang sudah jadi selogan iklan). Itu saja, lainnya yah lazimnya anak kos terkadang kami kesulitan keuangan. Namun pekerjaan tambahan yang kami dapatkan cukup untuk menambal kekurangan tersebut. Kami sepakat bahwa kami sebagai mahasiswa tak boleh menjadi seonggok jagung yang busuk di sudut gudang.

Apa guna pendidikan
Bila terpisah dari derita lingkungan?
(W.S Rendra- Sajak Seonggok Jagung-)

Terima kasih