Thursday, October 18, 2012

Mencari Keadilan (Demonstrasi Buruh PT Panarub)

Suasana demonstrasi buruh PT. Panarub Kamis (18/10/2012)
Demo 1300 Buruh Panarub Kamis (18/10/2012).
Mereka menuntut hak yang selama ini belum dilunasi pihak pabrik

Masih demo 1300 buruh Panarub Kamis (18/10/2012).
Seorang buruh perempuan mengalami luka pada kakinya
akibat bentrok dengan petugas keamanan pabrik
Spanduk tuntutan para buruh Panarub pada demonstrasi
Kamis (18/10/2012)
Matahari membakar semangat buruh PT Panarub
pada demonstrasi Kamis (18/10/2012)
Semangat kartini-kartini buruh PT Panarub
menuntut hak-haknya dikembalikan
Kamis (18/10/2012)
This shirt is rockin

Sunday, August 5, 2012

Mengenal Kamoro dan Maramowe




Oleh: Luthfie F
Selasa 31 Juli 2012

Keingintahuan masyarakat luas akan budaya Papua sedikit terobati dengan diadakannya pameran bertajuk “Kamoro, Tinggalan Budaya Maramowe”. Acara yang terselenggara atas kerjasama Papua Center FISIP UI , Bentara Budaya Jakarta dan PT. Freeport Indonesia menampilkan hasil seni ukir dan kebudayaan masyarakat Kamoro.

Pameran tersebut, dibuka dengan sambutan dari Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthazar Kambuaya dan Prof. Dr. Meutia Hatta selaku guru besar antropologi FISIP UI.
Kamoro merupakan salah satu suku diantara sekitar 250 suku yang tersebar diseluruh Papua. Mereka bermukim di beberapa kampung seperti kampung Kokonao. Istilah maramowe sendiri berasal dari tradisi kamoro yang berarti pengukir. Bagi masyarakat kamoro, status maramowe diberikan secara turun temurun dan semua maramowe adalah laki-laki.

Pameran yang banyak mengundang apresiasi tersebut direncanakan berlangsung selama sepekan dari tanggal 31 Juli 2012 hingga 6 Agustus 2012 bertempat di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Jakarta Barat.

Wednesday, July 25, 2012

Suatu subuh di Timur Tengah


Di antara desir pasir langit berjalan muram
para pemberani terlentang di ladang minyak. Padam
Lalu dibalik reruntuhan tembok lirih ibu menangisi
Bayinya yang tidak bisa menangis lagi
Seperti daun-daun  melawan diktatornya angin dan musim gugur.
Tanpa daya
Semua menjadi pasti
Dari sebuah konsekuensi

-di ruang biru 7252012-

Saturday, July 21, 2012

berikut adalah gambar para sastrawan angkatan 1950, sebenarnya masih banyak sastrawannya, tanpa maksud merendahkan, gue cuma ambil 4. hehe.

Tuesday, July 17, 2012

Kejadian hari ini

di koran pagi kubaca berita
seorang bayi mati dibuang ibunya di kali
mungkin sedang ikut program KB pemerintah
lalu kulihat iklan kondom di tv
Seks Bebas???

Lalu siang hari di tv
sang mentri memberi kabar
satu miliar kan terbang ke Washington DC
terbang tanpa salam
kepada rakyat yang kelaparan
dan sekolah-sekolah yang hampir roboh

Sore hari, koran memberi kabar
grafik pertumbuhan ekonomi
meningkat, tapi kucari berita tentang pemerataan
kubalik, kubuka halaman selanjutnya
ternyata tidak ada
mungkin aku sedang khilaf
mataku alpa.

Malam hari
kulihat langsung
anak-anak berbicara
dengan bahasa yang tidak mereka mengerti
mungkin sudah tertelan tele(r)visi

-Masya Allah-

Introspeksi

Tanpa berkaca diri, kadang kita hanya bisa mencaci
Salah salah harusnya begini.
Koar sana koar sini.
Tanya.. tanya... tanya...Kritik-kritik-kritik
lama-lama menjadi
krik..krik...krik

Harusnya begini bukan begitu salahkan sana salahkan sini
(kadang) kita tak lebih dari suara kentut
Kritik sana kritik sini
Yang tertinggal kadang hanya teori
Mari sisakan remah-remah apresiasi
Jangan tujukan puisi ini untuk orang lain, melainkan kepada dirimu sendiri.

Tapi
jangan tutup kuping soal kritik
kuping dicipta untuk mendengar
bukan disumpal. kebal.

Sunday, July 8, 2012

Butuh

Butuh
Aku butuh ruang
Untuk melebur, memuai, mencair, membeku,
Aku butuh ruang,
Untuk menyatu, jatuh, bangkit, jatuh, lalu bangkit kembali
Aku butuh ruang
Untuk melawan, menantang, melangit, lalu kemudian membumi
Aku butuh



Kesendirian